Ketika saya ditanya, “ mas,… apakah sampean sangat mencintai
istri sampean ?? “
Terus terang saya jawab, “ jangan bawa-bawa kata ‘sangat’
dulu dong, wong ini saya masih belajar mencintai “
“ Lho kok bisa, kan
sudah jadi istri sampean ? “
“ Menikah tanpa cinta itu bisa kok, wong syarat sah menikah
ndak ada embel-embel harus cinta. Yang penting mau belajar men-Cinta-i . Ngaku
sudah Cinta itu berarti ilmunya sudah tinggi mas, saya masih blajar mencintai,
belum bisa dikatakan sudah Cinta terhadap istri saya. Bagaimana tidak, wong
saya ini kalo capek kadang masih minta dipijitin sama istri saya, kalau pulang
kerja kadang suka minta dibikinin es sirup . “
“ Walah,… saya kok tambah bingung dengan maksud sampean ?? “
sumber gambar hambamuslim
Membaca percakapan di atas memang terlihat mbingungi (
membingungkan ). Bagaimana tidak, si penjawab yang sudah menikah mengaku belum
mencintai istrinya, tapi masih blajaran. Inilah yang aneh, sudah menikah tapi
ngomong belum cinta.
Jangan bingung dulu,… kadang yang aneh-aneh punya maksud
yang justru sangat logis jika dijabarkan.
Sebenarnya berbicara masalah cinta itu seperti kita sedang
jalan kaki di gurun sahara, seolah tidak ada ujungnya. Apalagi jika kita
berbicara tentang pemaknaan, akan lebih luas lagi. Karena tiap individu
mempunyai pemikiran yang berbeda. Meski luas, bukan berarti tidak bisa dibahas
secara logis.
Cinta itu ilmunya tinggi sekali, susah sekali dipraktekkan
hampir sama seperti ilmu ikhlas.
Jika kita ditanya , sebenarnya Cinta itu baik atau buruk ? membawa
pada kebaikan atau keburukan ?
Saya yakin banyak yang berpendapat baik dan membawa pada kebaikan.
“ Mas kalau semisal saya beranggapan bahwa cinta itu bisa baik dan bisa buruk ?? “
Saya jawab,” ndak bisa bro/sist,… kita harus konsisten, apalagi perkara sensitif seperti ini, supaya jelas dan tidak ambigu”.
Saya yakin banyak yang berpendapat baik dan membawa pada kebaikan.
“ Mas kalau semisal saya beranggapan bahwa cinta itu bisa baik dan bisa buruk ?? “
Saya jawab,” ndak bisa bro/sist,… kita harus konsisten, apalagi perkara sensitif seperti ini, supaya jelas dan tidak ambigu”.
Jadi cinta itu selalu memunculkan kebaikan, tidak ada keburukan
sama sekali yang dimunculkan karena cinta.
Misalnya begini, ada lelaki “mengaku” mencintai seorang perempuan. Mau melakukan apa saja, bahkan mau disuruh nyemplung sumur.
Apa itu cinta ?? saya katakan bukan.
Lalu ?? itu namanya
NAFSU.
Trus bagaimana dengan kisah Romeo and Juliet ?? mereka saling mencintai kan ?
Trus bagaimana dengan kisah Romeo and Juliet ?? mereka saling mencintai kan ?
Bukan, mereka saling NAFSU antara satu sama lain.
Ingat bahwa yang disebut nafsu itu bukan melulu BIRAHI, itu hanya salah satunya. Hawa nafsu itu cenderung menjerumuskan kita pada hal-hal buruk.
Berbeda dengan cinta,…
Cinta itu selalu memunculkan kebaikan, tidak menjerumuskan
pada hal-hal buruk. Yang menjerumuskan pada hal buruk sekali lagi namanya hawa
nafsu.
Jadi nilai yang penting dipelajari adalah bagaimana membedakan antara cinta dan
hawa nafsu.
Konkritnya bahwa cinta itu selalu memberi, memberi dan
memberi kebaikan. Bukan meminta.
Kalau kita mengaku cinta, maka yang kita lakukan adalah selalu memberi kebaikan. Tanpa meminta balasan.
Kalau saling mencintai, pasti saling memberi kebaikan. Jadi tidak perlu ada yang meminta apalagi menuntut. Karena sesungguhnya MEMBERI itu lebih baik daripada MEMINTA.
“ Lho mas, kalau misal istri saya memiliki sifat buruk. Karena saya cinta kepadanya, bukankah sudah selayaknya bagi saya untuk meminta dia untuk berubah”.
“ Kalau sampean cinta pada istri sampean, maka bukan MEMINTA dia untuk berubah. Tapi MEMBERI dia pengertian agar berubah. Karena cinta itu selalu MEMBERI bukan MEMINTA”.
Kalau kita mengaku cinta, maka yang kita lakukan adalah selalu memberi kebaikan. Tanpa meminta balasan.
Kalau saling mencintai, pasti saling memberi kebaikan. Jadi tidak perlu ada yang meminta apalagi menuntut. Karena sesungguhnya MEMBERI itu lebih baik daripada MEMINTA.
“ Lho mas, kalau misal istri saya memiliki sifat buruk. Karena saya cinta kepadanya, bukankah sudah selayaknya bagi saya untuk meminta dia untuk berubah”.
“ Kalau sampean cinta pada istri sampean, maka bukan MEMINTA dia untuk berubah. Tapi MEMBERI dia pengertian agar berubah. Karena cinta itu selalu MEMBERI bukan MEMINTA”.
Berarti ketika anda mencintai istri anda atau suami anda. Yang selalu anda fikirkan adalah bagaimana MEMBERI-kan yang terbaik dari diri anda seutuhnya untuk dia yang anda cintai. Bukan bagaimana memiliki dia seutuhnya.
Jika anda sudah saling mencintai ( saling mencintai = saling memberi ) , kepemilikan itu sudah otomatis terjadi tanpa anda MEMINTA, kebutuhan anda akan terpenuhi tanpa MENUNTUT.
Itulah rewardnya ketika kita memaknai bahwa cinta = memberi, memberi dan memberi.
. . . . . . . . .







0 komentar:
Posting Komentar